Pemikiran

Manajemen Pengelolaan Sampah Itu Soal Karakter Bangsa
09.01.18
penulis Fayakhun Andriadi - dilihat 730 kali

Oleh: Fayakhun Andriadi (Doktor Ilmu Politik UI)

Seberapa mengerikan masalah sampah di Indonesia? Kita cari jawabannya dari perspektif data.

Kita mulai dari Jakarta dan data terbaru. Perayaan malam tahun baru 2018 yang baru berlalu meninggalkan “oleh-oleh” sangat pelik: tumpukan sampah sebanyak 780 ton. (Detik, 1/1/2018) Hanya dalam semalam! Jumlah ini lebih besar dari tahun sebelumnya yang di kisaran 700 ton. (Kompas, 2/1/2018)

Fakta ini menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun, percepatan volume sampah tidak terbendung. Bagaimana dengan kecepatan penanganannya? Rasanya jauh lebih lambat, jika malah bukan stagnan.

Kita lanjutkan melihat data volume sampah di Jakarta. Setiap hari, ibu kota memproduksi 7.000 ton sampah. Bandingkan dengan kota-kota besar di Eropa yang hanya menghasilkan 2.000 ton sampah per hari. Logikanya: semakin maju sebuah kota, semakin sedikit sampahnya. Bukan sebaliknya: kemajuan kota paralel dengan penumpukan sampah. Jadi, Jakarta baru akan dikatakan maju dan setara dengan kota-kota besar di Eropa, jika urusan pengelolaan sampahnya sudah selesai. Selama masih belum, semaju apapun infrastruktur Jakarta, tetap akan disebut mundur, selama volume sampahnya semakin besar.

Kenapa? Karena kemajuan sebuah kota termasuk didalamnya kemajuan peradabannya. Kemampuan sebuah kota mengelola sampah salah satu ciri fundamental dari peradabannya. Sampah adalah gelombang masalah super serius yang bisa menghancurkan sebuah kota. Sebuah kota bukan hanya akan mengalami kemunduran serius jika tak finish dengan urusan sampahnya, bahkan akan musnah ditelan bencana. Masih ingat tragedi Tempat Pembuangan Sampah Leuwigajah, Bandung pada 21 Februari 2005. Sebanyak 157 jiwa tewas dan dua kampung terhapus dari peta karena tertimpa longsor sampah. Apalah artinya kemajuan infrastruktur, jika pada akhirnya manusianya ditelan bencana sampah.

Jadi, Jakarta mungkin bisa berbangga dengan capaian kemajuan infrastrukturnya yang tak kalah dengan kota-kota besar lainnya di dunia. Namun, tidak dengan capaian peradabannya dalam hal mengelola sampah. Kota ini masih jauh tertinggal di belakang, alias tidak beradab (uncivilized).

Untuk seluruh Indonesia, data Kementerian Lingkungan Hidup da Kehutanan menyebutkan bahwa pada tahun 2016, jumlah sampah mencapai 65 juta ton. Jumlah ini naik 1 juta ton dibanding satu tahun sebelumnya. Sebanyak 14 persennya adalah sampah plastik. Riset Jambeck (2015) mengatakan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua di dunia sebagai penghasil sampah plastik ke laut. Sampah plastik Indonesia sebesar 187,2 juta ton, sementara Cina mencapai 262,9 juta ton.

Masalah sampah pelik jika kita tarik ke level global. United Nations Environment Programme (UNEP), badan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk lingkungan hidup, dalam laporan “Global Waste Management Outlook 2014” mengungkapkan bahwa setiap tahun volume sampah dunia telah mencapai 1,3 miliar ton. Volume ini diperkirakan mencapai 2,2 miliar ton pada 2025. Ini akan menimbulkan ancaman kesehatan serta krisis lingkungan. Dunia akan mengalami kiamat sampah jika tidak mengambil langkah mengatasi krisis sampah ini.

 

Sampah dan Karakter Bangsa

Mengelola sampah adalah karakter bangsa. Tak mudah membangun mental ini. Sampah bukan hanya soal ekonomi dan lingkungan hidup. Lebih dari itu, sampah menyangkut filosofi, sosiologi, dan antropologi sebuah bangsa. Dalam bahasa yang sederhana: sampah mencerminkan karakter jati diri bangsa.

Persepsi kita tentang sampah sangat tergantung pada mentalitas yang kita miliki. Bagi mereka yang memiliki mentalitas terbelakang (uncivilized), sampah dipersepsikan sebagai “sesuatu yang tidak memiliki nilai guna, karena itu selayaknya disingkirkan”. Beda dengan mereka yang melihat sampah dengan mentalitas beradab (civilized). Mereka melihat sampah sebagai emas. Bukan hanya emas sebagai simbol, tapi juga riil. Mari kita lihat datanya. Menurut data UNEP, jika dikelola dengan baik, sampah bukan hanya bisa menyelamatkan lingkungan, tapi malah bisa menjadi sumber energi dan bisnis yang menjanjikan. Laporan UNEP menunjukkan pada tahun 2009 menyebutkan, kandungan emas dalam satu ton ponsel bekas, 65 kali lebih banyak dari kandungan emas dalam satu ton bijih besi (ore) yang hanya mengandung 5 gram emas. Bukankah ini membuktikan bahwa sampah itu emas dalam pengertian yang sebenarnya?

Tidak sebatas itu. Menurut data, kini nilai industri pengelolaan sampah dunia telah mencapai US$ 410 miliar. Sementara nilai materiil dari limbah elektronik yang bisa dipulihkan pada tahun 2016 sebesar 55 miliar dolar AS (Rp. 745 triliun). Jumlah tersebut lebih besar dari Produk Domestik Bruto beberapa negara di dunia pada tahun yang sama. Ini membuktikan dahsyatnya potensi bisnis daur ulang dan pengelolaan sampah

Sekali lagi, ini soal mentalitas. Mindset kita tentang sampah akan menentukan perlakuan kita terhadap sampah: dibuang atau dikelola. Mentalitas ini yang kemudian membentuk budaya kita dalam memperlakukan sampah. Sampah tidak boleh dilihat sebagai sebuah sesuatu yang terpisah dari diri kita, melainkan integral dengan diri kita. Karena bagaimana sampah diperlakukan, akan menentukan masa depan kita. Sistem pendidikan menentukan mentalitas masyarakat dalam mempersepsikan sampah. Sudah saatnya sistem pendidikan kita secara serius memasukkan pendidikan tentang sampah sebagai bagian pengajaran. Dari rahim pendidikan, budaya pengelolaan sampah bisa dibentuk. Dan itu bukan kerja mudah dan instan, tapi butuh kerja keras dan waktu yang lama.

Jepang tercatat salah satu negara dengan budaya yang sudah tinggi dalam pengelolaan sampah. Berikut sedikit gambaran soal fakta penyortiran sampah dalam budaya yang sudah tertanam kuat di masyarakat Jepang. Setiap warga Jepang dibekali dengan buklet setebal 27 halaman. Buklet ini berisi panduan lengkap menyortir, menyimpan, dan membuang sampah. Di dalamnya terdapat instruksi detail tentang 518 jenis sampah! Mereka harus bisa menyortirnya dengan ketat. Tak cuma itu, di Jepang sistem pengolahan sampah berjenjang dari level distrik hingga provinsi. Tokyo memiliki 23 distrik pengelolaan sampah. Bahkan, sebuah desa di barat daya Jepang, Kamikatsu, disebut-sebut sebagai desa “nol sampah”. Di desa ini, sistem pengelolaan sampahnya sangat ketat.

Jepang butuh waktu kurang lebih 20 tahun untuk sampai tahap budaya setinggi ini dalam pengelolaan sampah. Kini publik Jepang bukan hanya memiliki kesadaran tinggi dalam pengelolaan sampah, tapi sudah menginternalisasi menjadi karakter masyarakatnya. Bagi mereka, mengelola sampah sudah menjadi bagian dari life style.

Indonesia harus segera mencari solusi penanganan sampah. Ini solusi jangka pendek dan menengah. Untuk solusi jangka panjang, pendidikan kita juga secepatnya mengafirmasi ini ke dalam sistem, agar perlahan terbangun budaya yang tinggi di masyarakat kita dalam pengelolaan sampah. Jika problem sampah di era sekarang tidak berhasil kita tangani dengan cepat, di masa mendatang Indonesia akan menghadapi masalah yang lebih kompleks. Dunia kini sedang memasuki gerbang era digital. Terlepas dari berbagai kelebihan dan manfaatnya, zaman digital juga memiliki tantangan tersendiri dalam hal pengelolaan sampah.

Mari kita tengok data dan faktanya. Jumlah limbah elektronik di dunia semakin pesat. Berdasarkan laporan Global E-waste Monitor 2017, pada tahun 2016 dunia menghasilkan limbah elektronik sebanyak 49,2 juta ton. Jumlah ini hampir setara dengan sembilan Piramida Besar Giza, 4.500 Menara Eiffel, atau 1,23 juta truk berkapasitas 40 ton yang terisi penuh. Jika dijajarkan, sampah elektronik ini akan membentuk garis sepanjang 28.160 km (jarak dari kota New York ke Bangkok dan kembali lagi ke New York). Pada tahun 2021, kenaikan limbah elektronik sebesar 17 persen dan mengukuhkannya sebagai kategori limbah domestik dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

“Kita hidup di masa transisi ke dunia yang lebih digital, di mana otomasi, sensor, dan kecerdasan buatan mengubah semua industri, kehidupan kita sehari-hari dan masyarakat kita. Limbah elektronik adalah hasil sampingan paling simbolis dari transisi ini dan semuanya menunjukkan bahwa ia akan terus tumbuh dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkap Antonis Mavropoulos, salah satu peneliti dalam riset tersebut.

Bisa dibayangkan, jika kita nanti secara total kita sudah masuk ke era digital, berapa kali lipat pertumbuhan jumlah sampah elektronik. Belum lagi kita bicara soal sampah dalam bentuk data. Di era digital, “sampah data” akan menjadi ancaman dan gangguan tersendiri. Sampah jenis ini butuh solusi tersendiri.

Jadi, tak ada pilihan lain bagi Indonesia untuk segera memperbaiki manajemen pengelolaan sampah. Pada saat yang sama juga melakukan pendidikan membentuk budaya ramah sampah. Agenda ini tidak dapat ditunda-tunda lagi. **