Pemikiran

Menjelang Seabad Deklarasi Balfour dan Implikasinya bagi Palestina
03.01.17
penulis Sitaresmi S Soekanto - dilihat 1.745 kali

Oleh: Dr. Sitaresmi S Soekanto (Doktor Ilmu Politik UI)

Seabad Deklarasi Balfour (2 November 1917-2 November 2017)

Pendahuluan

Sebagaimana diketahui secara luas, sebagian besar gerakan Islam meyakini gagasan memunculkan kembali Khilafah Islamiyah atau yang dikenal pula sebagai Neo-Khilafah atau Neo-Ottoman, walaupun ada pula kelompok Muslim yang apolitis maupun sekuler yang menganggap ide menegakkan Khilafah adalah utopia semata.  Negara-negara Barat sendiri tetap menganggap wacana dan upaya realisasi Neo-Khilafah sebagai bahaya laten bagi hegemoni Barat. Negara-negara Barat yang terdiri dari AS yang selalu membela kepentingan Israel dan negara-negara yang tergabung di dalam Uni Eropa menganggap ide pembentukan Neo-Khilafah atau yang mereka sebut sebagai ‘Islamic super power” adalah ancaman bagi kepentingan mereka melestarikan hegemoni militer, politik dan ekonomi atas negara-negara Muslim.

Bila dahulu Pan-Islamisme Sultan Abdul Hamid II dianggap ancaman oleh negara-negara Barat, maka kini gagasan ‘Islamic super power’ yang akan menyatukan negara-negara Muslim dalam suatu zona kerjasama sosial, politik, budaya dan ekonomi menjadi ancaman pula bagi Barat. Oleh karena itu gerakan reformasi dan demokratisasi yang disebut “Arab Spring” di negara-negara di Afrika dan di Timur Tengah justru dipadamkan dan dianulir sendiri oleh negara-negara penganjur demokrasi dengan cara menggerakkan agen-agen mereka di negeri-negeri tersebut untuk melakukan kudeta. Barat dengan sadar memilih sikap standar ganda dan melakukan gerakan kontra-Arab Spring.

 

Latar Belakang Historis Keruntuhan Khilafah Terakhir

Khilafah atau kekhalifahan terakhir dalam sejarah Islam adalah Kekhalifahan Turki Utsmani yang bertahan lama selama lebih kurang 6,5 abad yakni dari tahun 699 H-1342 H atau 1299-1924 Masehi. Khilafah ini runtuh di awal abad 20 yakni tepatnya pada tahun 1924, melalui sebuah konspirasi anak-anak muda Turki yang belajar di Eropa dan tergabung dalam Young Turken. Mereka adalah hasil didikan Perancis dan negara-negara Barat lainnya yang sudah lama menganggap ‘Ottoman Empire’ atau Khilafah Turki Utsmani sebagai ancaman global bagi mereka. Barat mengajarkan pada anak-anak muda Turki tersebut terutama yang menonjol adalah Mustapha Kemal Pasha tentang nasionalisme dan pembentukan ‘nation state’ atau negara bangsa  sebagai langkah untuk memecah Khilafah Turki Utsmani.Padahal Khilafah atau imperium ini sudah berjaya selama beberapa abad hingga awal abad 20 dan kemudian menurun serta akhirnya runtuh seiring dengan kebangkitan Eropa dan Rusia.

Proses keruntuhan Khilafah Turki Utsmani menurut Profesor Mehmet Ali Behan, guru besar ilmu sejarah, Marmara University, Istanbul, sebenarnya sudah dimulai ketika di tahun 1820-an dibuat sebuah perjanjian antara negara-negara Eropa, Rusia dengan Turki Utsmani berupa proyek nizhom jadid atau tatanan baru, yang berisikan rekomendasi dan dorongan agar Turki secara militer dan manajemen sama majunya dengan negara-negara Eropa atau dengan kata lain terjadi reformasi. Sebelumnya pada tahun 1808, upaya reformasi militer juga sudah dilakukan sehingga menyulut pemberontakan militer. Namun kemudian secara bertahap terjadi reformasi dalam hal militer dan manajerial pemerintahan di Khilafah Turki Utsmani.

Pada masa itu wilayah Ottoman Empire melingkupi tiga benua yakni Asia, Eropa dan Afrika, sehingga membawahi beragam suku, qabilah, dan agama. Maka tak heran banyak problematika dan banyak pula terjadi kudeta. Eropa pun terus melakukan sorotan dan tekanan terhadap Khilafah Turki Utsmani dengan menekankan bahwa di Khilafah ada begitu banyak problem. Kemudian kaum muda Turki hasil didikan Perancis yang disebut Young Turken, mulai gencar memunculkan ide perubahan lewat tulisan di media-media, yakni ingin membentuk sistem parlementer, yang sedang menjadi trend baru di Eropa.

Padahal sebenarnya keinginan anak muda Turki tersebut tidak memiliki akar filosofis yang jelas, selain hanya meniru revolusi yang terjadi di Perancis yang terkenal dengan slogannya Egalite, Fraternite dan Liberte (kesamaan, persaudaraan dan kebebasan). Young Turken ingin mengadopsi bulat-bulat sistem dari Perancis dan menerapkannya di Turki, namun mereka tidak menyadari bahwa ada perbedaan yang mendasar antara Perancis dan Turki. Bila di Perancis ada perbedaan kasta antara kaum bangsawan atau borju dengan kaum proletar, maka tidak demikian halnya di Turki. Di Turki bisa dikatakan hampir tidak ada feodalisme serta tidak ada diskriminasi berdasarkan kasta dan golongan karena memang tidak ada perbedaan kasta. Di negara Turki Utsmani, bisa saja anak seorang petani menjadi wali kota, bila menempuh pendidikan tinggi. Hal seperti itu jelas tidak mungkin terjadi di Perancis yang sangat feodal. Selain itu di Khilafah Turki Utsmani juga telah ada kebebasan beragama sejak dulu karena melingkupi juga wilayah-wilayah orang-orang non-Muslim dan mereka bebas menjalankan agamanya.

Namun tetap saja ketika Young Turken kembali ke Turki, mereka melancarkan serangan kepada pemerintahan Khilafah Turki Utsmani melalui media dan sarana lainnya. Pada 1876, Young Turken membentuk sebuah organisasi dan melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Sultan Abdul Aziz yang akhirnya berhasil mereka gulingkan. Setelah menggulingkan Sultan, mereka pun membentuk sistem monarki parlementer dengan simbol pemimpin tertinggi tetap seorang sultan yakni Sultan Murad. Dari Sultan Murad kemudian dilanjutkan dengan Sultan Abdul Hamid II, yang merupakan salah satu sultan terhebat dengan masa memerintah terlama yakni selama 33 tahun (30 Agustus 1876-30 April 1906).

Walaupun Turki sudah mengalami reformasi, tetap saja memiliki banyak problematika. Selain masalah politik intenal, juga ada ancaman dari luar yakni pemberontakan Armenia di Timur Turki dan juga Etnis Kurdi. Terlebih lagi kedua etnis yang memberontak tersebut sangat didukung oleh Eropa untuk merebut kemerdekaannya. Sementara itu di sisi lain, zionis Yahudi terus menekan karena ingin membentuk negara Yahudi atau Israel di Palestina yang saat itu berada di wilayah Khilafah Turki Utsmani. Theodore Herzl, tokoh Yahudi yang sudah 6 kali datang ke Istanbul, baru diterima oleh Sultan Abdul Hamid II pada 1898. Pada pertemuan itu, Herzl menawarkan tiga bentuk kerja sama: pertama, membantu masalah finansial Turki Utsmani dengan membayarkan hutang karena kantong-kantong finansial saat itu sudah di tangan Yahudi. Kedua, mengendalikan dan mengontrol media (hal yang dilakukan Yahudi hingga saat ini).Ketiga, mereka juga menawarkan untuk meredakan pemberontakan separatis Armenia. Dan ‘hebatnya’ kompensasi bagi ketiga proyek besar itu ‘hanya’ dengan imbalan mereka, bangsa Yahudi, boleh ikut berdiam untuk bertani dan berternak di Palestina.

Namun Sultan Abdul Hamid II tak sedikitpun bergeming dan selalu menjawab dengan tegas bahwa pintu Turki Utsmani selalu terbuka juga untuk orang-orang Yahudi misalnya di wilayah seperti Andalusia. Mereka bisa bermigrasi di wilayah Turki Utsmani yang manapun kecuali tanah Palestina, karena Sultan Hamid II memahami benar tujuan mereka sesungguhnya. Tak lama kemudian melalui media surat kabar mereka “Neolinsky” di Istanbul mereka menulis artikel bahwa selama Sultan Hamid masih berkuasa, mereka tidak akan bisa menguasai Palestina. Mereka kemudian membuat rencana untuk 50 tahun ke depan, dan ternyata tepat 50 tahun kemudian yakni pada 1948, mereka berhasil mendirikan negara Israel di Palestina.

Young Turken pada tahun 1908 mendirikan gerakan Ittihad yang kemudian menjadi partai politik pada masa menjelang berakhirnya Khalifah Turki Utsmani. Gerakan tersebut memang bertujuan menggulingkan Sultan Abdul Hamid II dan pada 31 Maret 1908 mereka berhasil menggulingkan Sultan Abdul Hamid II dan kemudian menjadi penguasa. Sebenarnya Sultan Abdul Hamid II masih bisa mempertahankan kekuasaan jika menggunakan cara represif karena masih mendapatkan dukungan sebagian militer yang loyal. Namun beliau tidak menghendaki adanya pertumpahan darah sehingga memilih mundur. Menurut Mehmet Ali Behan tentu saja konspirasiYoung Turken tersebut ada hubungannya dengan Israel atau Yahudi walaupun sulit dibuktikan.

Hal yang lain juga cukup signifikan turut menjadi penyebab keruntuhan Khilafah Turki Utsmani adalah pemberontakan negara-negara Arab setelah dihasut oleh seorang agen rahasia Inggris yang sangat terkenal, T. E. Lawrence. Lawrence menjadi mata-mata penghubung antara dunia Arab dan Inggris dengan menjadi sahabat Raja. Ia terus meyakinkan bahwa negara-negara Arab harus memisahkan diri dari Khilafah Turki Utsmani karena dijajah sehingga akhirnya pecah Revolusi Arab yang melepaskan dirinya dari Khilafah Islam. Selama perang, Lawrence berperang bersama tentara lokal Arab di bawah komando Amir Faisal, putera dari Sharif Hussein di Mekkah, dalam operasi-operasi gerilya yang berkepanjangan melawan angkatan bersenjata dariImperium Utsmaniyah dengan tidak melakukan serangan frontal pada kubu Utsmaniyah di Madinah. Jalur atau rel kereta api yang menghubungkan antara Madinah dan Istanbul pun dicopot oleh negara Arab.Keyakinan Sultan Abdul Hamid II mengenai Pan-Islamisme untuk menyatukan negeri-negeri Muslim memang dianggap ancaman oleh negara-negara Eropa yang pada umumnya memiliki negara-negara jajahan di negeri-negeri Muslim di Asia dan Afrika. Sebenarnya runtuhnya Khilafah Turki Utsmani bukan semata-mata karena memiliki wilayah yang terlalu luas dan penduduk yang terlalu majemuk, melainkan lebih karena daerah-daerah yang dikuasai Khilafah Turki Utsmani adalah daerah-daerah yang kaya seperti lembah subur Mesopotamia yang terletak di antara sungai Eufrat dan Tigris. Daerah tersebut selain bisa dibuat pertanian ternyata juga mengandung minyak. Hal tersebut jelas membuat Barat menginginkan untuk menguasai wilayah-wilayah tersebut dan mengeksploitasi kekayaan alamnya. Ditambah lagi motif ideologis yang dimiliki Yahudi untuk menguasai Palestina. Mereka mengawali usahanya dengan menyebarkan ide perubahan dan pembaharuan di antaranya ide reformasi dan demokrasi, padahal mereka hanya menjadikannya sebagai alat untuk kemudian menguasai negeri-negeri Muslim yang kaya tersebut.

Perbedaan antara Yahudi dan Zionisme

Menurut Riyanti dari FIB UI istilah Yahudi dan Zionisme sering diidentikkan sebagai dua kata yang maknanya kurang lebih sama. Padahal kedua kata ini memiliki perbedaan makna yang cukup mendasar. Kesalahan dalam mempersepsikan dua makna ini dapat berakibat fatal dalam memahami sejarah dan perkembangan konflik Arab-Israel. Sementara terjadinya Deklarasi Balfour tidak bisa dilepaskan dari gerakan Zionisme. Pembahasan tentang Zionisme, tidak akan terlepas pula dari bahasan tentangYahudi baik sebagai agama maupun sebagai ras. Jika dilihat sebagai ras, maka Yahudi adalah kaum keturunan Nabi Yakub As dan sebagai sebuah agama, Yahudi adalah sistem kepercayaan yang dianut oleh keturunan Ibrahim As sebelum lahirnya agama Nasrani dan Islam. Sebuah sistem kepercayaan yang memiliki Tuhan yang Esa dengan Taurat sebagai kitab sucinya. Memang, sampai saat ini terdapat pro kontra terkait perkembangan Yahudi sebagai sebuah agama termasuk pro kontra terkait keorisinilan isi Taurat saat ini yang disebut mereka sebagai Talmut.[1]

Sementara itu di sisi lain terkait dengan Zionisme, maka gerakan nasionalisme Eropa memiliki konsekuensi langsung bagi gerakan Zionisme. Goldschmidt menambahkan bahwa tidak semua Yahudi adalah Zionis. Beberapa kaum Yahudi menganggap diri mereka adalah bagian dari negara di mana mereka tinggal. Mereka adalah bangsa dari negara tempat mereka lahir dan hidup. Mereka menolak ide-ide Zionisme, termasuk konsep nasionalisme dan kembali ke Tanah yang Dijanjikan (the promise land). Bahkan tidak semua Zionis adalah orang-orang Yahudi karena ada juga bagian dari umat Nasrani yang meyakini bahwa kembalinya Yahudi ke tanah Palestina atau berdirinya negara Israel adalah awal kemunculan kedua Yesus (Goldschmidt 1979: 229). Selain itu ada jugaorang non-Yahudi yang mendukung pendirian negara Israel, karena menganggap orang-orang Yahudi tidak dapat menjadi bangsa lain.

 

Deklarasi Balfour 2 November 1917: Konspirasi Internasional Atas Palestina

Deklarasi Balfour bermula dari sebuah surat tertanggal 2 November 1917 yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Britania atau Inggris; Arthur James Balfour, dan ditujukan kepada Lord Rothschild (Walter Rothschild yang merupakan Baron Rothschild Kedua), pemimpin komunitas Yahudi Inggris, untuk dikirimkan kepada Federasi Zionis, pemerintah Inggris mendukung rencana Zionis mewujudkan ‘tanah air’ bagi Yahudi di Palestina, dengan syarat bahwa tak boleh adayang merugikan hak-hak dari komunitas-komunitas yang telah ada di sana.Sebelumnya, sebagian besar wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Khilafah Turki Utsmani, namun kemudian dibuat batas-batas baru Palestina dalam Perjanjian Sykes-Picot 16 Mei 1916 antara Inggris dan Perancis. Sebagai balasan untuk komitmen dalam deklarasi tersebut, komunitas Yahudi meyakinkan Amerika Serikat untuk ikut dalam Perang Dunia I.  Namun sebenarnya di Inggris memang telah ada dukungan bagi gagasan ‘tanah air’ untuk Yahudi dan tinggal menunggu waktunya yang dianggap tetap.

Salah satu tokoh utama Yahudi yang ikut dalam pembahasan deklarasi ini adalah Dr. Chaim Weizmann, jurubicara terkemuka organisasi Zionisme di Britania Raya. Selama pertemuan pertama antara Chaim Weizmann dan Balfour (1906), pemimpin kelompok Persatuan itu terkesan oleh kepribadian Weizmann. Weizmann ialah kimiawan yang berhasil mensintesiskan aseton yang diperlukan dalam menghasilkan cordite, bahan pembakar yang diperlukan untuk mendorong peluru-peluru. Tanpa itu semua, Inggris saat itu mungkin akan kalah dalam Perang Besar. Saat ditanya bayaran apa yang diinginkan, Weizmann menjawab, “Hanya ada satu hal yang saya inginkan, tanah air buat orang-orang saya.” Dan keinginannya itu direalisir melalui Deklarasi Balfour. Isi Deklarasi Balfour kemudian digabungkan ke dalam perjanjian damai Sèvres dengan Turki Utsmani dan Mandat untuk Palestina. Dalam teks akhir Deklarasi Balfour frase “tanah air” secara sengaja digunakan sebagai pengganti “negara”. Maka Inggrisdi buku Putih Churchill, 1922,terus menyangkal di dekade-dekade berikutnya bahwa mereka membentuk negara Israel.Namun sebenarnya banyak pejabat Inggris yang setuju dengan interpretasi kaum Zionis bahwa hasil akhir yang diharapkan memang sebuah negara. Bahkan di naskah awal ada kesan bahwa tanah air buat Yahudi tersebut adalah mencakup seluruh Palestina sebelum kemudian diubah. Demikian pula di naskah awal tidak ada persyaratan untuk tak merugikan hak-hak komunitas non-Yahudi. Perubahan-perubahan ini terjadi antara lain karena desakan Edwin Samuel Montagu, seorang anti-Zionis Yahudi yang berpengaruh yang prihatin bahwa bila deklarasi tersebut tidak diubah maka akan meningkatkan sentimen dan penganiayaan anti-Semit.Sebagaimana halnya Persetujuan Sykes-Picot sebelumnya, deklarasi ini pun dipandang banyak orang Arab sebagai pengkhianatan besar terhadap upaya Inggris dalam mendukung kemerdekaan Arab dalam Korespondensi Hussein-McMahon 1915–1916.

Berdirinya Negara Israel (1948) adalah awal penjajahan atas bangsa Palestina. Sebelumnya wilayah Palestina masih berada dalam kekuasaan Turki Utsmani, namun pada tahun 1918, Palestina jatuh dan Jenderal Allenby merebut Palestina dari Khilafah Turki Utsmani. Lalu setahun kemudian, secara resmi kekuasaan atas Palestina diberikan kepada Inggris oleh LBB. Setelah Palestina berada dalam kekuasaan Inggris dan LBB, maka dengan mudahlah bangsa Yahudi masuk dan menduduki Palestina. Maka pada tanggal 14 Mei 1948 dideklarasikan pendirian Negara Israel diatas tanah Palestina.[2]

Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza hingga hari ini tak lepas dari dosa politik Inggris. Sebab, Inggris yang mengizinkan warga Yahudi eksodus ke Palestina dan akhirnya mendirikan negara baru. Dukungan Inggris atas imigrasi besar-besaran warga Yahudi ke Palestina tertuang dalam Deklarasi Balfour pada 2 November 1917 yakni sebuah surat yang dikirimkan Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour, kepada Lord Rothschild, pemimpin komunitas Yahudi Inggris, untuk disampaikan kepada Federasi Zionis. Tak lama setelah ada Deklarasi Balfour, eksodus warga Yahudi dari berbagai penjuru dunia ke Palestina mulai terjadi. Selama Perang Dunia I Inggris mengambil alih Yerusalem (1917) dan menetapkan kota itu di dalam The Palestine Mandate dari tahun 1922-1948. Pada tahun 1948, Inggris sebagai pemegang otoritas tanah Palestina tiba-tiba menyatakan tidak bertanggung jawab lagi atas seluruh Palestina yang dikuasakan kepadanya oleh Liga Bangsa-Bangsa yang telah bubar.[3]

Maka berdirilah negara Israel yangdiproklamirkan David Ben Gurion (Perdana Menteri Israel pertama,1948-1953), pada tanggal 14 Mei 1948 pukul 16. 00 waktu setempat. Sebuah negara yang muncul kembali setelah lebih dari 2.500 tahun menghilang dari muka bumi, karena konflik internal dan penjajahan. Israel pun kemudian segera terlibat pertikaian soal perebutan wilayah dengan Palestina dan Yordania, serta negara-negara Arab lainnya. Dan dimulailah penjajahan babak baru yang dilakukan zionis Israel sebagai kelanjutan penjajahan Inggris atas tanah Palestina. Berdirinya “Negara Israel” merupakan hasil konspirasi musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin di Palestina, khususnya terhadap masjid Al-Aqsha, kiblat umat Islam yang pertama. Sebab hanya berselang 10 menit setelah proklamasi “kemerdekaan Israel”, Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman langsung mengumumkan sikap resmi negaranya dengan mengakui dan mendukung berdirinya “Negara Israel”, serta langsung membuka hubungan diplomatik secara resmi.

Israel kemudian mulai menjajah bangsa Palestina dan sejak saat itu rakyat Palestina sangat menderita. Anak-anak kelaparan, perempuan-perempuan diperkosa, laki-laki dibunuhi dan diusir dari kampung halamannya serta bangunan-bangunan dihancurkan. Banyak yang terpaksa mengungsi karena ingin menyelamatkan aqidah dan harga dirinya.Saat ini diperkirakan ada 5 juta pengungsi bangsa Palestina di seluruh dunia atau 70 persen dari total populasi Palestina. Lebih dari dua pertiga dari total pengungsi Palestina terdaftar di UNRWA (UN Relief and Works Agency) dan sepertiga di antaranya tinggal di 59 kamp pengungsi yang tersebar di seluruh Tepi Barat, Jalur Gaza, Lebanon, Syria dan Jordan. Lebih dari 80 persen pengungsi menetap sekitar 100 km dari kamp dan kota asal mereka.

Dalam pernyataan persnya, pemimpin-pemimpin Hamas di Palestina yang pada tahun 2007  memperingati 90 tahun perjanjian petaka Balfour menuliskan, “Rakyat Palestina akan tetap pada garis pertahanannya semula, dan memilih melakukan perjuangan melawan perampok penjajah Zionis. Palestina adalah tanah air yang memiliki akar bangsa Arab dan Islam.” Hamas juga meminta dunia internasional turut bertanggung jawab secara historis dan moral terhadap semua dampak akibat perjanjian Balfour, yang merupakan skenario Inggris. Menurut Hamas, semua bentuk kejahatan baik pengusiran, pembunuhan, penangkapan, penyiksaan oleh tangan penjajah Zionis yang keji adalah rentetan akibat perjanjian Balfour. Oleh karena itu Hamas meminta dunia internasional meluruskan kesalahan fatal dalam sejarah ini dengan membatalkannya. Hamas tegas menyatakan akan melanjutkan perlawanan bersenjata mengusir penjajah Zionis Israel dan juga melalui berbagai cara untuk mengembalikan hak-hak rakyat Palestina. Hamas menegaskan tidak akan mundur dari medan perlawanan bersenjata kecuali setelah semua hak Palestina dikembalikan dan negara Palestina berdiri.[4]

 

Prospek kebangkitan kembali Khilafah Islamiyah dan relevansinya dengan pembebasan Palestina

Menurut Mehmed Ali Behan, yang dimaksud dengan Neo-Khilafah atau Neo-Ottoman adalah membentuk semacam PBB untuk dunia Islam.Pada 1955 pernah dibentuk Pakta Baghdad, tetapi banyak yang tidak setuju, seperti Mesir dan Syiria. Saat ini menurut Behan nampaknya mustahil untuk membentuk negara federasi seluruh negara-negara Muslim, namun negara-negara Muslim yang independen dapat membangun blok kekuatan Muslim dengan Turki yang akan memimpin, karena Turki Utsmani pernah menjadi pusat peradaban dunia.  Behan juga meyakni bahwa Turki dapat menjadi negara yang menjembatani antara negara-negara Barat dan Timur.  Sebab Turki saat ini memiliki jumlah penduduk muda yang banyak, tanah yang kaya dankewibawaan politik. Beliau jugaoptimis AK Parti berkompeten untuk mencapai keunggulan dan kebaikan bagi Turki dengan adanya transparansi, kebebasan media dan kesiapan AK Parti untuk berkolaborasi dengan semua elemen bangsa Turki lainnya.

Sebagai perbandingan Mehmet Ali Behan menjelaskan bahwa salah satu alasan didirikannya Uni Eropa adalah untuk mencegah terulangnya kembali perang dunia karena sudah terjadi 2 kali PD dan itu sudah dibayar sangat mahal oleh mereka. Kemudian yang kedua, untuk mengimbangi hegemoni Amerika yang memiliki kekuatan dalam berbagai bidang dan bila hanya satu negara Eropa maka tidak akan mungkin dapat mengimbangi Amerika seorang diri.Namun menurut keyakinan Behan, Uni Eropa tidak akan menerima Turki sebagai anggotanya. Sebab fakta bahwa Turki memiliki banyak penduduk dengan usia angkatan kerja adalah ancaman bagi negara-negara anggota Uni Eropa, selain jelas karena memiliki perbedaan ideologi dan agama. Namun menurutnya hal tersebut tidak menjadi masalah bagi Turki, karena masa depan Uni Eropa sendiri juga masih belum jelas. Di antara negara Uni Eropa tidak ada pengikat untuk kesatuan diantara mereka, misalnya saja dalam masalah mata uang, Inggris  tetap tidak mau menerima mata uang Euro bahkan kini dalam proses keluar dari keanggotaan Uni Eropa yang dikenal dengan istilah Brexit. Hilmi Aminuddin, pendiri Gerakan Tarbiyah di Indonesia mengatakan bahwa ada tiga hal yang dimiliki Eropa yang tidak ada pada Turki yakni filsafat Yunani, Politik Romawi dan agama Masehi. Hal-hal tersebutlah yang juga diyakini Hilmi membuat Uni Eropa enggan menerima Turki sebagai anggota Uni Eropa.

Jika Turki telah dapat mengatasi masalah-masalah dalam negerinya, misalnya pemberontakan di Timur Turki,  maka Behan meyakini dengan adanya pemimpin-pemimpin yang berkompeten seperti saat ini,Turki akan menjadi lebih kuat lagi di masa mendatang. Sebab hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa Turki adalah negara yang memiliki pengaruh dan diperhitungkan oleh Rusia dan Amerika. Oleh karena itu menurut Behan apakah Turki akan diterima atau tidak sebagai anggota Uni Eropa bukanlah sesuatu yang penting. Saat inidi Turki telah berlangsung sebuah perubahan ke arah kemajuan, dan tidak ada yang bisa menghalanginya.[5]

Namun yang  menjadi keprihatinan dunia Islam saat ini, termasuk juga Turki adalah fakta bahwa Palestina masih terjajah. Maka peran dunia Islam terutama Turki sangat diharapkan. Sebagaimana diketahui, sebelum dijajah oleh zionis, Palestina atau Baitul Maqdis sudah tiga kali dijajah. Pertama, dijajah oleh kaum Jabbarin sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran dan kemudian dibebaskan oleh Nabi Yusa bin Nun AS. Pada saat itu untuk menunjukkan keistimewaan pembebasan Baitul Maqdis, Allah mengijinkan matahari berhenti selama satu jam agar Nabi Yusa bisa menyelesaikan jihadnya pada hari Jumat sebelum magrib, karena  bagi mereka berlaku syariat sabbat yakni tidak boleh bekerja apalagi berperang di hari Sabtu.Nabi Yusa bin Nun sebagaimana kita ketahui adalah seorang pemuda yang menjadi asisten Nabi Musa As ketika dalam perjalanan mencari Nabi Khidir, dan ia berdiri didekat Nabi Musa As menjelang menyeberangnya Bani Israil melewati laut merah menuju Baitul Maqdis. Dia juga yang kemudian bersama Nabi Musa menyatakan siap pergi berjihad masuk ke Baitul Maqdis tetapi Bani Israil menolak dan mengatakan “Ya Musa, idzhab anta warobbuka, pergilah anda bersama Tuhanmu dan berperanglah sementara kami  duduk menunggu”. Nabi Yusa bin Nun adalah penerus Nabi Musa, sesudah Bani Israil selama 40 tahun dalam keadaan berputar-putar kebingungan. Generasi baru yakni generasi Yusa bin Nun inilah yangkemudian membebaskan Baitul Maqdis. Jadi, pertama kali dibebaskan dari kaum Jabbarin dengan jihad yang dipimpin oleh Nabi Yusa bin Nun.

Kedua, Penjajahan yang berikutnya adalah dibawah Romawi selama hampir 600 tahun sehingga ketika Muhammad lahir dan kemudian menjadi Nabi Muhammad SAW, Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa masih dalam keadaan dijajah oleh Romawi. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat maka dilanjutkan Perang Muktah 2 sebagai jihad untuk membebaskanBaitul Maqdis yang sudah dipersiapkan sebelumnya melalui Perang Muktah 1 semasa Nabi masih hidup, melewati  Suriah dan kemudian Mesir. Oleh karena itu menurut seorang ulama, bumi Syam memang tidak bisa dilepaskan dari Mesir dan Suriah sebab Mesir dan Suriah sebagaimana dijelaskan dalam tafsir surat At-Tin,  adalah bagian dari Baitul Maqdis  dan juga bagian dari tanah suci yang di sucikan. Jihad tersebut mengambil rutemelalui Damaskus, Homs dan Aleppo sampai kemudian pembebasan Baitul Maqdis dan Yerusalem oleh pasukan Umar bin Khattab.Ketiga, adalah pada saat terjadi perang salib dan Baitul Maqdis kemudian dibebaskan oleh Salahudin Al Ayyubi melalui Suriah. Jadi Baitul Maqdis sudah tiga kali dijajah dan tiga kali pula dibebaskan dengan jihad. Di awal abad ke-20, Palestina diduduki oleh Inggris lalu diserahkan ke Liga Bangsa Bangsa (LBB) yang membiarkan berdirinya negara Israel pada tahun 1948 dan menjadi penjajah `Baitul Maqdis atau Palestina hingga saat ini.[6]

Dewasa ini PBB nyaris disfungsional, padahal dahulu kesalahan terbesar ada pada LBB (cikal bakal PBB) yang sebenarnya tidak berhak untuk membagi-bagi tanah Palestina.  Tanggal pembagian tersebut kini diperingati sebagai Palestine Solidarity Day, padahal hari itu adalah tragedi bagi pemilik sah tanah Palestina sehingga sangat tidak layak dirayakan. Kelicikan Israel saat itu untuk merebut Palestina atau Baitul Maqdis adalah dengan memanfaatkan negara lain Inggris yang menang Perang Dunia I (PD I) dan kemudian menduduki Palestina. Tokoh Yahudi Weizmann yang dianggap berjasa membantu Inggris menang PD I melalui temuannya untuk persenjataan Inggris mengajukan permintaan untuk menjadikan Palestina sebagai tanah air kaum Yahudi. Yahudi juga memanfaatkan peran Liga Bangsa-Bangsa (LBB) setelah Inggris menyerahkan Palestina ke LBB. Bahkan Yahudi ditengarai oleh ilmuwan sejarah dari AS sengaja ‘membiarkan’ terjadinya ‘Hollocaust’ dengan memanfaatkan sentimen anti Yahudi di Jerman demi sebuah pencitraan bahwa mereka adalah bangsa yang teraniaya dan membutuhkan simpati dunia. Segala cara mereka gunakan dengan tujuan mendapatkan Palestina, sehingga LBB saat itu menyepakati bahwa tanah Palestina dibagi dua yakni bagian Palestina dan bagian Israel dengan Yerussalem menjadi ibukota bersama. Mereka menyebut Yerussalem sebagai sesuatu yang tidak boleh diganggu-gugat. Namun setelah dibagi dua pun, ternyata yang berdiri hanya negara Israel, dan tragisnya sampai sekarang Palestina bahkan belum memperoleh bagiannya karena dicaplok juga oleh Yahudi. Saat ini penduduk asli Palestina hanya tinggal 30% yang bertahan di tanah airnya yang terjajah, selebihnya hidup dalam pengungsian di berbagai negara.

Saat ini yang juga menjadi masalah adalah tingginya tingkat apatisme dunia pada penjajahan Israel atas Palestina serta minimnya solidaritas dunia Islam pada Palestina. Sebagaimana diketahui gerakan Islam arus utama yakni Ikhwanul Muslimin (IM) menggunakan manhaj ishlah atau reformasi yakni perjuangan bertahap melalui jalur siyasi atau politik  sehingga menggunakan metode structural, prosedural serta konstitusional di semua negara yang memiliki gerakan Ikhwan, namun khusus untuk Palestina diperbolehkan menggunakan jalur militer atau jihad askariy. Sebab Palestina memang ranah jihad dan tidak mungkin membebaskan Palestina atau Baitul Maqdis tanpa jihad. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW bahwa Bumi Syam adalah AbuRibath. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik jihad adalah ribaath dan sebaik-baiknya ribaath adalah askolan yakni kabilah yang ada di bumi Syam.  Oleh karena itu tidak ada pilihan lain bila ingin menegakkan perdamaian di Palestina selain dengan cara menegakkan jihad.

Memang belum diketahuisecara pasti bagaimana skenario pembebasan Palestina akan berlangsung, tetapi yang jelas sesuatu yang telah terjadi dimasa Rasulullah SAW dan para sahabat kemudian terjadi kembali di masa Salahudin Al Ayyubi namun belum terjadi lagi saat ini adalah bersatunya kaum muslimin dalam persepsi yang sama bahwa Baitul Maqdis adalah bagian dari tanah air kaum muslimin di seluruh dunia. Bila nanti tiba saatnya, dimana kaum muslimin sudah menyadari posisi penting Baitul Maqdis dalam aqidah mereka dan bahwa adalah tugas suci untuk membebaskannya serta marah terhadap penjajahan Baitul Maqdis sebagaimana mereka marah jika ada yang mau menjajah Masjidil Haram dan Nabawi,barulah pada saat itu kaum muslimin sedunia akan bergerak bersama para Mujahidin untuk membebaskan masjidil Aqsha. Para mujahidin tersebut juga mengatakan: “Dalam sekian tahun kami sudah harus ada dititik yang paling dekat untuk membebaskan masjidil Aqsha dan pada waktu itu kami tidak akan sendirian. Kami akan bersama dengan saudara-saudara kami dari wilayah manapun termasuk Indonesia”. Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka punya perencanaan yang matang untuk mempersatukan kaum Muslimin.  Oleh karena memang sunnahnya adalah berjihad, maka perjuangan pembebasan Baitul Maqdis atau Palestina, tidak cukup jika hanyadengan melalui diplomasi atau siyasi (politis). Para ulama saat ini mengatakan bahwa semua mata tombak atau mata pisau yang bisa dipakai untuk membebaskan Palestina atau Baitul Maqdis akan mereka gunakan yakni melalui siyasi dan diplomasi, melalui jalur keilmuan dan media serta puncaknya adalah melalui perjuanganaskariy/militer. Sebab yang jelas memang harus melalui jihad, demikian tegas Santi Soekanto pendiri Sahabat Al Aqsha, lembaga nirlaba yang memiliki perhatian yang luas pada Palestina dan Suriah.[7]

 

Rujukan

[1]Riyanti-Program Studi Arab FIB UI dalam makalah berjudul “Deklarasi Balfour: Latar Belakang dan Kedudukannya dalam Konflik Arab-Israel” source: Academia © 2016

[2]Muhammad Saifullah. Juli 19, Perjanjian Balfour Tonggak Konflik Israel-Palestina

[3]Sumber: news.okezone.com

[4]M. Lili Nur Aulia. Perjanjian Balfour: Hasil Konspirasi Internasional Atas Palestina Rizki Ridyasmara – Minggu, 4 November 2007 09:47 WIB Posted 19th July 2010 by MAMBSD (Era Muslim)

[5]Wawancara dengan Mehmet Ali Behan di Istanbul, Turki pada Agustus 2009

[6]Wawancara dengan Santi Soekanto, pendiri ‘ Sahabat Al Aqsha’ pada tanggal 18 November 2016

[7]ibid