Pemikiran

Rekonsiliasi Turki-Rusia
22.08.16
penulis Sitaresmi S Soekanto - dilihat 1.343 kali

Oleh: Dr. Sitaresmi S Soekanto (Doktor Ilmu Politik UI dan Pembina INSURE)

Dengan tidak membuang waktu sedikitpun, pasca upaya kudeta di Turki tanggal 15 Juli yang mengguncang tidak hanya rakyat Turki, melainkan juga dunia, Presiden Turki Recep Tajjip Erdogan segera melakukan konsolidasi nasional Turki. Dengan slogan Turkey United atau Turki bersatu, pada hari Ahad 7 Agustus, lima juta rakyat Turki berkumpul di Yenikapi. Mereka datang dari berbagai kota dengan menggunakan alat transportasi darat, laut dan udara secara gratis untuk menghadiri Rapat Akbar mengenang para syuhada serta mensyukuri kemenangan rakyat dan demokrasi.

Bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki modern, ada sebuah rapat akbar yang diselenggarakan bersama oleh partai penguasa yakni AKP dan dua partai oposisi utama yakni CHP dan MHP. Presiden Erdogan pun berpidato di rapat akbar tersebut: “Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku memohon kepada Allah, agar menerima seluruh arwah rakyat kita yang mengorbankan dirinya melawan kejahatan para pelaku makar. Semoga mereka diterima sebagai syuhada. Seandainya bisa, saya ingin menyalami dan mengucapkan terimakasih satu persatu kepada 80 juta rakyat Turki. Allahu Àkbar. Allahu Akbar. Allah yang telah menyelamatkan bangsa ini. Katakan aamiiin…ya Allah peliharalah terus bangsa ini. Sesudah peristiwa kemarin (makar) yang kita hadapi bersama-sama, kita bertekad untuk mendidik generasi baru yang mampu membedakan dengan jelas, siapa kawan siapa lawan. Apa yang halal dan apa yang haram.” ( aljazeera.live).

Selanjutnya, Erdogan juga tidak menunggu lama-lama untuk melakukan konsolidasi di kawasan regional. Ia pun segera terbang ke Rusia untuk melakukan rekonsiliasi dengan Rusia. Presiden Erdogan tiba di St Petersburg, Rusia pada hari selasa tanggal 9 Agustus yang merupakan kunjungan pertamanya ke luar negeri pasca kudeta yang gagal 15 Juli yang lalu. Kunjungan tersebut juga sekaligus merupakan kunjungan pertama Erdogan ke Rusia pasca krisis Turki-Rusia. Bila dilakukan kilas balik maka insiden penembakan yang terjadi pada hari selasa 24 November 2015, benar benar membuat hubungan Turki-Rusia memburuk. Pada insiden tersebut Angkatan udara Turki menembak jatuh jet tempur Sukhoi Su-24 milik Rusia di wilayah perbatasan Turki-Suriah. Kantor kepresidenan Turki bersikeras mengumumkan bahwa Angkatan udara Turki sudah memberikan peringatan berkali kali pada pesawat jet Rusia yang melintasi wilayah udara Turki.

Namun saat itu presiden Rusia, Vladimir Putin bereaksi keras dan mengatakan penembakan tersebut sebagai sebuah kejahatan. Rusia pun segera melarang warganya bepergian ke Turki, kemudian menghentikan ekspor gas alam dan minyak mentah. Eskalasi suhu politik antara Turki dan Rusia tersebut sempat dikhawatirkan akan menyulut perang terbuka antara Turki dan Rusia. Sebenarnya hubungan bilateral antara Turki dan Rusia sangat erat dan bersifat multidimensional baik antara Government to Government dengan Person to Person. Wisatawan kedua terbesar setelah Jerman adalah orang Rusia. Rusia mengekspor gas alam, minyak mentah, baja ke Turki (50% kebutuhan Turki dipasok dari Rusia). Bahkan di kawasan perdagangan ‘Aksaray’ banyak tinggal orang Rusia yang menjalankan bisnisnya di Turki.

Saat itu krisis politik Turki-Rusia berdampak langsung ke bidang ekonomi terutama industri pariwisata Turki yang sangat dirugikan. Apalagi juga terjadi ledakan-ledakan bom oleh Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan ISIS (ISIL), sementara operasi pihak keamanan Turki yang menyerang ISIL dan PKK diblok oleh militer Rusia. Demikian pula perusahaan-perusahaan besar Turki yang bergerak di industri pariwisata, makanan, konstruksi dan bisnis retail di Rusia mengalami kesulitan yang serius.

Walaupun di sisi lain kondisi politik dan ekonomi Rusia saat itu juga sedang tidak stabil dan gerakan oposisi sedang meluas. Sementara kapal perang Rusia jika mau keluar ke perairan internasional harus melewati Bosporus. Kemudian Turki juga dibutuhkan sebagai kekuatan penggenap dan penyeimbang baik oleh Rusia maupun AS. Dalam upaya menghadapi Rusia, AS membutuhkan Turki sebagai sekutunya di NATO. Sebaliknya untuk menghadapi Barat, Rusia pun membutuhkan Turki sebagai mitra terutama dalam bidang ekonomi. Tarik menarik dan tawar menawar terus berlanjut di antara kedua negara yang sebenarnya saling membutuhkan ini, Namun yang jelas krisis hubungan Turki-Rusia tersebut memang tidak berlanjut ke perang terbuka dan bahkan sekarang sudah menuju tahap normalisasi hubungan alias rekonsiliasi yang ditandai dengan pertemuan 9 Agustus antara pemimpin tertinggi kedua negara yang sudah dirintis sejak 27 Juni 2016.

Dalam perkembangan selanjutnya, bahkan Vladimir Putin adalah pemimpin pertama yang menelpon Erdogan sehari setelah terjadinya upaya kudeta sebagai bentuk solidaritas Rusia pada Turki setelah usaha kudeta yang gagal. Erdogan juga sangat berterima kasih pada Presiden Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev yang merupakan Presiden pertama yang datang ke Turki untuk menunjukkan solidaritasnya dan juga telah membantu memecahkan krisis Turki-Rusia. Menurut Murat Yetkin, ada diplomasi rahasia antara beberapa tokoh Turki dan Rusia yang mencoba menjadi mediator sebagai langkah awal untuk mengakhiri krisis hubungan Rusia-Turki. Sedangkan menurut Ibrahim Kalin, juru bicara Erdogan, orang yang memainkan peran yang sangat penting dalam penyelesaian krisis tersebut adalah seorang pengusaha Turki yang banyak berinvestasi di Rusia, Cavit Caglan. Selain itu yang juga ikut berperan dalam upaya diplomasi pendahuluan adalah Presiden Kazakhstan, Nursultan yang sangat bersahabat dengan Turki dan Jenderal Hulusi Akar, kepala angkatan bersenjata militer walaupun diplomasi bukanlah bidang dan tanggung jawabnya.

Baik Kalin maupun Caglar tidak mau menceritakan kepada Huriyet Daily News detil upaya-upaya diplomatis yang dilakukan mereka. Berkat kerja keras diplomasi tersebut maka Erdogan pun mau menandatangani surat yang segera diantar langsung oleh Kalin ke Rusia bersama pengusaha Caglar. Surat Erdogan untuk Putin tersebut dirancang oleh Kalin bersama orang-orang dari kedutaan besar Kazakhstan dan menggunakan istilah yang tetap menjaga ‘izzah’ atau martabat Erdogan. Sebab Erdogan sejak awal setuju dengan normalisasi hubungan Turki-Rusia hanya saja masih berkeberatan mengirim surat dengan menggunakan kata ‘apology’ dan ‘compensation’. Maka digunakanlah istilah ‘izvinite’, yaitu sebuah kata dalam bahasa Rusia yang lebih kuat maknanya dibanding kata ‘sorry’ tetapi masih dibawah kata ‘apology’. Dan pada tanggal 27 Juni 2016 di Moskow disepakati perjanjian normalisasi Turki-Rusia setelah Putin menerima surat dari Erdogan yang menggunakan kata ‘izvinite’ tersebut. Ternyata dua pekan kemudian yakni tanggal 15 Juli terjadi upaya kudeta di Turki.

Kunjungan pertama Turki ke Rusia pasca kudeta yang gagal adalah sebuah isyarat simbolik dan sekaligus pukulan buat Amerika Serikat karena tidak mau mengekstradisi Gulen. Apalagi orang yang pertama kali memberikan dukungan lewat telfon pada saat terjadi kudeta adalah Putin. Padahal sebelumnya pihak Turki sudah menelfon meminta dukungan dari Amerika Serikat melalui kedutaan mereka di Ankara dan sudah dihubungkan ke Washington , namun Amerika Serikat nampak sengaja menunggu untuk melihat keadaan yang terjadi di Turki. Lalu pada saat keadaan kudeta di Turki sudah 80 persen gagal, barulah pemerintah AS menyatakan dukungannya terhadap Turki, dalam pernyataannya pun tidak ada kata dukungan untuk pemerintahan yang terpilih resmi, hanya saja dukungan AS untuk kedamaian Turki dan stabilitas ekonomi Turki.

Selain AS, Uni Eropa juga saat ini sangat tidak bisa diharapkan oleh Turki karena sikap menduanya.Bahkan Carl Bild, Wakil Ketua dari Parlemen Eropa dan mantan Perdana Menteri, Swedia mengritisi Uni Eropa yang lamban menunjukkan simpatinya pada Turki. Padahal menurut Bild percobaan kudeta di Turki adalah kudeta serius dan terjadi di negara mitra kehormatan Uni Eropa. Upaya kudeta di Turki tersebut menurut Bild benar-benar tidak dapat diperbandingkan dengan yang pernah terjadi di negara-negara Uni Eropa. Sebab upaya kudeta di Turki tersebut dilakukan dengan menduduki stasiun-stasiun televisi, menjatuhkan bom di parlemen dan mencoba menangkap serta membunuh presiden terpilih.

Memang akhirnya ancaman tersebut dapat diatasi namun telah jatuh korban lebih dari 265 nyawa yang tewas dan 1100 yang terluka. Namun rapat akbar Ahad 7 Agustus kemarin yang dihadiri sekitar 5 juta rakyat dan pimpinan serta kader-kader kedua partai oposisi utama merupakan pernyataan tegas bahwa seluruh rakyat Turki dan semua partai politik di Turki sama-sama mengutuk kudeta. Rapat akbar di Yenikapi yang memperingati menangnya demokrasi dan sekaligus untuk menghormati para syuhada tersebut, secara unik mempertontonkan solidaritas di Turki sehingga demokrasi bisa diharapkan benar-benar berakar di Turki. Carl Bild juga menyayangkan bahwa pada malam kudeta tersebut ketika drama upaya kudeta tersebut belum berakhir, tidak ada negara-negara Uni Eropa ataupun perwakilannya yang langsung mengutuk peristiwa tersebut.

Selain itu juga tidak ada tanda-tanda dari negara-negara Uni Eropa untuk terbang ke Turki menyatakan selamat pada rakyat Turki yang berhasil menggagalkan kudeta. Padahal Turki yang saat ini sedang menghadapi ancaman besar terhadap aturan konstitusional negaranya membutuhkan simpati dan dukungan dari dunia. Bahkan sebaliknya, negara-negara Uni Eropa malah segera mempertanyakan patokan yang digunakan pemerintah Turki dalam upaya bersih-bersih terhadap anasir-anasir kudeta yang terkait erat dengan gerakan Gulen. Ketika Turki meminta bantuan dari konvensi HAM Eropa untuk memahami tindakan ‘bersih-bersih’ sebagai langkah ‘emergency’ penanganan terorisme, maka pemimpin-pemimpin Uni Eropa segera menyatakan ketidaksetujuannya. Mereka lupa atau sengaja melupakan bahwa Perancis melakukan hal yang sama setelah teror Paris November tahun lalu dan dimaklumi langkah-langkah penanganan terorisme di Perancis yang tentunya ada unsur pelanggaran HAM. Namun karena terorisme adalah kondisi ‘extra ordinary’ maka masuk bab permakluman Dewan HAM Uni Eropa. Tidak ada yang berusaha membela ataupun mempertanyakan bahwa Turki memiliki hak yang sama yakni melakukan langkah-langkah radikal pula untuk menyelamatkan negaranya dari anasir-anasir pengkhianat yang menjadi dalang upaya kudeta.

Padahal Posisi Uni Eropa akan jauh lebih baik jika mereka datang langsung ke Turki untuk mengekpresikan simpati mereka pada Turki dan rakyat Turki terkait upaya kedeta tersebut. Selain itu tidak perlu ada pula pertanyaan apalagi kecaman tentang tindakan penanganan darurat terhadap kudeta. Carl Bild menganggap bahwa evaluasi terhadap Turki dapat dilakukan oleh Uni Eropa setelah kondisi Turki relatif stabil, seperti menanyakan pada pemerintah Turki misalnya tentang kebebasan pers. Dan kini fakta bahwa presiden Rusia Putin menjadi pemimpin yang pertama bertemu dengan Erdogan menurut Bild benar-benar memalukan negara-negara Uni Eropa. Maka Eropa beresiko kehilangan otoritas moralnya karena ada kekhawatiran di Turki bahwa reaksi Uni Eropa yang tidak tegas mengecam kudeta di Mesir pada tahun 2013 kembali terulang pada penyikapannya terhadap upaya kudeta di Turki ini. Dan memang hanya beberapa hari setelah upaya kudeta yang gagal tersebut, penasehat presiden Erdogan yakni Ibrahim Kalin dalam twitternya menjawab kritik Barat tentang upaya pemerintah membersihkan anasir kudeta. ” Jika kudeta berhasil maka kalian akan segera mendukungnya sebagaimana yang terjadi di Mesir. Kalian tidak mengetahui tentang negeri ini, namun negeri ini sangat mengenal kalian”.

Sementara itu Presiden Erdogan menyatakan bahwa pertemuannya dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin hari ini Selasa 9 Agustus di St Petersburg, Rusia menandai era baru dengan Rusia sebagai batu pijakan (milestone) awal hubungan kembali antara Turki dan Rusia (Daily Sabah Ankara 5 Agustus 2016). Dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev di Ankara pada hari Jumat, Erdogan mengatakan Turki dan Rusia akan meninggalkan masa pahit sebagai masa lalu dan kembali pada hubungan baik yang sudah terjalin sejak dulu. Juru bicara Presiden Ibrahim Kalin mengatakan bahwa pertemuan Erdogan dengan Putin membantu percepatan proses normalisasi hubungan Turki-Rusia. Berbicara pada kantor berita Rusia TASS, Kalin mengatakan bahwa Turki menganggap Rusia sebagai partner dan teman yang penting. Berkaitan dengan pertemuan pada 9 Agustus, Kalin mengatakan bahwa kedua pemimpin akan membicarakan hubungan bilateral dan tantangan regional termasuk upaya memberantas terorisme dan menyelesaikan krisis Suriah. Saat ini adalah saat di mana persoalan nasional dan regional kedua negara yakni Turki dan Rusia memiliki implikasi global.

Oleh karena itu sudah tidak mungkin lagi memisah-misahkan antara persoalan nasional, regional dan global agar diperoleh pandangan yang menyeluruh. Mengomentari soal krisis Suriah, Kalin mengatakan bahwa Turki akan bekerja sama dengan Rusia, untuk memfasilitasi transisi politik di Suriah secepat mungkin. Adalah tidak mungkin berbicara tentang transisi politik di Suriah bila Bashar Asad masih tetap berkuasa. Bila Asad tetap berkuasa hal tersebut berarti tetap terjadi konflik di Suriah. Setelah 5 tahun pertumpahan darah dan setengah juta rakyat Suriah tewas, maka sangat diyakini bahwa tidak mungkin mencapai tujuan perdamaian yang abadi di Suriah jika Asad masih berkuasa. Maka hal yang penting disini adalah bagaimana membangun struktur politik yang demokratis, pluralistik dan inklusif di Suriah yang diterima oleh seluruh rakyat Suriah. Hal seperti itulah yang diinginkan Rusia dan Turki. Terkait dengan upaya kerjasama industri pariwisata dan proyek-proyek lainnya Turki mengharapkan turis Rusia akan meningkat seperti saat sebelum insiden penembakan pada November 2015. Bahkan diharapkan dapat melebihi angka tersebut dimasa yang akan datang dan ia juga memberi catatan bahwa tidak ada masalah keamanan Turki. Turki akan melanjutkan hubungan kerjasama yang erat dengan Rusia di segala bidang. Turki menganggap langkah-langkah yang diambil Turki dan Rusia selain untuk kepentingan kedua negara adalah juga untuk membantu pemecahan masalah regional dan global.

Presiden Erdogan berkata dalam konfrensi pers bersama setelah pertemuannya dengan Presiden Rusia Putin, pada hari Selasa tanggal 9 Agustus di St Petersburg, Rusia: “Kedua negara memiliki kemauan yang kuat untuk mengembalikan hubungan Turki-Rusia menjadi seperti di masa-masa sebelumnya, bahkan diharapkan lebih baik lagi. Hari ini kami berketetapan untuk mengembalikan relasi Turki-Rusia kedalam posisi yang benar di bidang politik,ekonomi , budaya dan kemanusiaan”. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Presiden Putin atas undangan dan keramahtamahan penyambutan Erdogan menyatakan bahwa mereka pertemuan ini adalah pertemuan yang menguntungkan kedua negara. Ia juga mengingatkan bahwa pertemuan tersebut adalah pertemuan pertama setelah insiden tahun lalu dan sekaligus merupakan kunjungan pertama Erdogan ke luar negeri setelah usaha kudeta di Turki 15 Juli yang lalu.

Presiden Erdogan juga meyakini bahwa rakyat kedua negara juga memiliki harapan yang sama. Kedua pemimpin tersebut juga akan mengambil langkah-langkah bersama untuk menghidupkan kembali Dewan kerja sama tingkat tinggi, meresmikan ulang penerbangan-penerbangan pesawat, menghapuskan pembatasan-pembatasan dalam hubungan dagang bilateral termasuk perdagangan produk-produk pertanian dan memudahkan jalan bagi pengusaha-pengusaha Turki di Rusia serta melaksanakan bebas visa. Presiden Erdogan menambahkan kedua negara menyepakati untuk mengupayakan dana investasi Turki-Rusia untuk meningkatkan kerja sama kami di bidang industri pertahanan. Baik Turki maupun Rusia juga memiliki pandangan yang positif tentang membangun mekanisme hubungan trilateral antara Turki, Rusia dan Azerbaijan. Erdogan juga berharap bisa membangun kembali hubungan kepercayaaan dan persahabatan antara Ankara dan Moskow.

Erdogan menyatakan apresiasinya betapa sangat penting arti telpon yang ia terima dari Putin sehari setelah upaya kudeta 15 Juli tersebut. Hal tersebut adalah bentuk solidaritas Rusia pada Turki. Sebab mengingat malam tanggal 15 Juli tersebut Turki benar-benar menghadapi upaya kudeta berdarah yang paling mengerikan dalam sejarah Turki dan anggota dari organisasi teroris Fethullah (FETO) mencoba melakukan kudeta terhadap presiden yang terpilih secara demokratik dan melakukan penyangkalan terhadap demokrasi itu sendiri. Namun demikian Presiden Erdogan menekankan bahwa Turki akan melanjutkan kerja-kerja dalam kerangka solidaritas dengan sahabat-sahabatnya walaupun terjadi berbagai insiden tersebut.

Presiden Erdogan menyatakan bahwa kerjasama antar Turki-Rusia tidak hanya untuk kepentingan kedua negara, melainkan juga untuk perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan regional dan global. Hubungan Turki dan Rusia saat ini dianggap mulai mencapai tingkatan hubungan seperti masa-masa sebelumnya berkat kerjasama pejabat dua negara serta dukungan rakyat Turki dan Rusia. Lebih lanjut, Erdogan menegaskan bahwa mereka mencapai kembali tingkat hubungan seperti ini bukan sebuah kebetulan melainkan karena kesamaan visi dan potensi kerjasama yang besar. Erdogan juga menyatakan bahwa ia dan sahabat baiknya Presiden Putin berada di posisi yang sama untuk menguatkan hubungan kerjasama bilateral dan multilateral

Sementara itu Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa selama ini Rusia-Turki tetap saling menghormati walaupun di saat menghadapi masa-masa yang sulit. Presiden Putin menegaskan bahwa kunjungan Presiden Erdogan ke Rusia ditengah situasi politik dalam negeri Turki yang berat menunjukkan keinginan kuat Turki untuk melakukan normalisasi hubungan kedua negara. Putin juga menegaskan bahwa mereka mendiskusikan bagaimana mengembalikan hubungan dan kerjasama ekonomi kedua negara sebesar pada masa sebelumnya. Mengingat proyek-proyek energi adalah faktor kunci hubungan Turki-Rusia maka Putin menekankan pentingnya langkah-langkah politik yang konkrit dalam proyek-proyek tersebut. Akhirnya, terlepas dari pembahasan teknis soal kerjasama di berbagai bidang, maka hal terpenting bagi Turki dan Rusia saat ini adalah keyakinan bahwa hubungan kedua negara tersebut menjadi lebih kokoh dan tahan terhadap krisis dibanding di masa lalu.